Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Blog EntryMay 19, '08 7:08 AM
for everyone
 

Angkasa

luka..... (Uuuh)

 

Mestinya kutaharus

Mengenang dirimu

Ho…! Mestinya kutaharus

Mencintai dirimu

 

Ho…! Sakitnya kurasakan

Takan perna hilang

Ho….! Cinta yang kau berikan

Bukanlah untukku

 

Ho…! Masi slalu terbayang

Kenagan manismu

Ho…! Meskipun itu palsu

Didalam hatiku

 

Reff

 

Wo….! Bukan dirimu u….!

Kan membeku

Sakit hatiku u…..!

Merasuk tubuhku

 

Mestinya kutaharus

Mengenang dirimu

Ho…..! mestinya kutaharus

Mencintai dirimu

 

Ho…..! sakitnya kurasakan

Takan perna hilang

Ho….! Cinta yang kau berikan

Bukanlah untukku

 

Kembali ke (reef 2x)

 

Bukan dirimu u….!

kan membeku

sakit hatiku u…!

mersuk tubuhku

 

Luka walau Hu…..!


Blog EntryFeb 6, '08 4:50 AM
for everyone

Next ------RAPAT PEMBAGIAN TUGAS

12.45 –Waktu Indonesia -Tunggulo

 

Tampak dlm Gambar  adalah suasana Rapat di ruang sidang Kantor Pusat..yang di pimpin langsung oleh Koordinator Tata Laksana-Koord. Kepegawaian-Perlengkapan,,Isi Rapat ADalah Tentang Pembagian Tugas ( CE-ES) , Kurang Lebih 20 Dari Kami TONAGA KLINIK SERVEr yang hadir… diwarnai tawa ,,hemoela

Adegan Tarzan ( maaf..) hahahahhh…hahahhah,,,,

 

Turut Juga Hadir dalam Rapat Tersebut Mr. Azir

 

 


Blog EntryFeb 2, '08 4:58 AM
for everyone

No

Nama

Alamat Rumah

Pendidikan Terakhir

Foto

1

Zulkifli Ali

 

Kifly

Gorontalo

SMK – Jurusan Mesin

2

Ishak Mustafa

 

 

Wenno

Gorontalo

SMA- Jurusan IPS

3

Hamida Gani

 

 

Ida

Gorontalo

SMA- Jurusan IPS

4

Yusri Uno

 

 

Lucky

Gorontalo

SMA- Jurusan IPS

5

Azis Hilipito

 

 

Azis

Gorontalo

SMA- Jurusan IPS

 

6

Harun Yusuf

 

 

Harun

Gorontalo

SMEA – Manajemen Perkantoran

 

7

Nawir Bantali

 

 

Joy

Gorontalo

SMK- Tehnik Elektronika Komunikasi

 

8

Apriyanto Usman

 

 

Yanto

Gorontalo

SMK- Tehnik

 

9

Rustam Hunawa

 

 

Tuz

Gorontalo

D1 - Informatika

 

10

Santi Musa

 

 

Shanty

Gorontalo

D2 - Tarbiyah

 

11

Teguh Wahyudi, A.Md

 

 

Guh

Jakarta

D3 - Informatika

 

12

Nanang Polamolo

 

 

Anangk

Gorontalo

SMEA – Administrasi

 

13

Faisal Suleman, S.Pd

 

 

Faitong

Gorontalo

S1 – Ilmu Pendidikan

 

14

Imran Pakaya

 

 

Imu

Gorontalo

SMK - Tehnik

 

15

Komd. Udin Laminullah

 

 

 

Komdan

Gorontalo

MANTAN ABRI

 

16

Dahrun Marada

 

 

 

 

Ka’Nane

Gorontalo

SMA – Jurusan Bahasa

 


Blog EntryFeb 2, '08 2:08 AM
for everyone

 

Sering kali, kata-kata melecehkan atau merendahkan orang berduit kepada kaum kecil, pekerja kasar seperti , klining sorvis, petani, nelayan, pengangkut sampah (he’’he’’he)-pemulung, dan sebagainya. Apa daya, nasib mereka memang tak sebagus bapak-bapak terhormat di gedung DPR, presiden/wapres, bapak dan ibu menteri, para gubernur, bupati/Walikota, Dirjen, KPK, KY, BPK, MA dan eksekutif muda yang mengklaim seakan berbuat paling banyak buat negara sehingga berhak pula mengambil pamrih lebih banyak.

 

Kuli kasar memang rakyat jelata. Orang-orang dari kebanyakan, yang belum terbiasa  tidak pernah berdasi, masuk gedung-gedung ber-AC, naik mobil mewah, telepon seluler super canggih, dan kemewahan lainnya. Ya, kuli adalah kaum terpinggirkan.

 

Namun begitu, jangan sekali-kali meremehkan apalagi menafikan mereka. Tanpa kuli bangunan, bapak-bapak terhormat tentu tak akan nyaman ngantor digedung pencakar lagit.

 

Jangan pula pernah menghina petani, sebab tanpa mereka, cacing di pusar anda akan terus keroncongan.

 

Jangan pernah menganggap tidak ada para kuli pabrik, sebab tanpa mereka, tubuh anda tak pernah ditutupi sehelai benagpun, kaki dijaga sepatu/sandal mewah.

 

Jangan pernah mencueki mereka, tanpa mereka tak ada mereka ( ja mo tota mo kata-kata)

 

Jangan pernah meniadakan pemulung atau tukang sampah, sebab seminggu saja mereka tidak mengais sisa pembuangan kekayaan Anda, maka lingkungan hunian niscaya ditebari semerbak bau busuk. Lalar-lalar pun akan beterbangan membawa bakteri.

 

Andai bapak-bapak/ibu-ibu terhormat, penguasa dan pengusaha pernah coba melakoni seperti peran para kaum kecil itu, tentu empati sangatlah penuh. Tidak lagi setengah hati, apalagi hampa dalam menetukan upah harian, atau upah minimum regional.

 

Dengan berempati kepada kaum kecil, pekerja kasar, kita berharap kaum berduit memberi penghargaan yang layak, bukan sekadar cukup makan, , klining servis pun mestinya bisa di berikan kesempatan hidup yang layak di sisi-Nya (bo ma mate) , Mereka juga berhak liburan, baju yang baru, emas permata, mobil dan rumah mewah.

 

 

 


Blog EntryJan 31, '08 6:13 AM
for everyone

Minggu yg Lalu sebuah Ivent dgn Promotor 79ers TM bEkerjasama dgn Gudang Garam sukses di laksanakan di Daerahku,,walau hujan mengguyur suasana tetap asyik dengan iringan Band Zildjian,,Penyelenggara pun merasa acara telah sukses penu bata-bata lo didi' Mas Yudin Abd. Azis Selaku Boss IO, Dade sang Ivent Manager, mas Lucky Seksi Sibuk Publikasi ,,,woy  OTO LE OPAN MA MO BUTU...hahahahahahha ,tak lupa mengucapkan Thankz kepada semua pihak yg telah membantu terlaksananya Acara Tsb.Rencana Acara yg bertemakan MalamrameMalamAsyik ini berikutnya Tgl. 30 Januari Bertempat di limboto-,>>>>>

ATIOLO-ja laku ati Gudang Garam Punya -Mudah2an Ivent yg kan datang Jao Dungga Lo Didi Poli----

 

 


Blog EntryJan 29, '08 3:32 AM
for everyone

Biografi Kahlil Gibran (1883-1931)

Sumber : 10 Kisah Hidup Penulis Dunia

Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.

Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Syria yang tinggal di Amerika.

Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

Bahan dirangkum dari:
Buku : 10 Kisah Hidup Penulis Dunia
Judul : Khalil Gibran
Editor : Anton WP dan Yudhi Herwibowo
Penerbit : Katta Solo, 2005
Halaman : 63 - 70

 

 


MusicSep 13, '07 3:13 AM
for everyone
YANG MAU AMBIL GRATIS SILAHKAN,,,
YANG INGIN MIDI DAN SYLE ( YAMAHA SERIES ) SILAHKAN HUBUNGI 085256385401-UNTUK INFO DAN ADMINNYA